Mengenal Desa Salam, Kecamatan Patuk Gunung Kidul

Setelah Kades Terbah memutuskan untuk menjalani masa pendampingan dari Yayasan Pengembangan Pemberdayaan (YP2) terlebih dulu dan ada proses diskusi yang agak panjang dengan Camat Patuk, maka akhirnya Tim Jogja mendapatkan lampu hijau untuk mulai bekerja di Desa Salam, sebuah desa yang secara geografis tidak terlalu jauh dari pusat kecamatan, tetapi kondisi jalan menuju Desa Salam sangat memprihatinkan dan posisi desa yang berada di lembah (cekungan).

Desa Salam merupakan 1 (satu) dari 11 desa yang menjadi bagian wilayah Kecamatan Patuk. Desa Salam berdasarkan data Kecamatan Patuk dalam angka tahun 2008 mempunyai total jumlah penduduk 3.052 jiwa dengan rincian 1.540 laki-laki dan 1512 penduduk perempuan atau sekitar 786 KK. Sedangkan menurut data BPS Gunung Kidul tahun 2008, banyaknya keluarga miskin di Desa Salam berjumlah 167 KK atau 558 jiwa. Desa Salam mempunyai potensi industri makanan lokal dan Gogor Park, sebuah area perkebunan yang berisi aneka pohon yang dikelola oleh desa dan ditawarkan sebagai area wisata, namun belum terkelola secara optimal.

Kamis, 22 Januari, Tim Jogja bersilaturahmi ke Balai Desa Salam dan bertemu dengan Pj. Kades yang dijabat oleh Sekretaris Desa, Ibu Nuraini Ekawati. Dalam pertemuan perdana dan “proses “kulonuwun” tersebut, tim Jogja memperkenalkan diri dan menjelaskan berbagai proses pendampingan dengan model kemitraan. Dalam diskusi diutarakan bahwa proses pendampingan akan dilaksanakan dalam beberapa bentuk, 1) Penguatan kapasitas pemerintahan desa dan kelompok-kelompok masyarakat dalam bentuk pendampingan terkait dengan implementasi regulasi yang baru UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa beserta 2 PP nya (PP No. 43 dan PP No. 60) hingga Perdais dan Pergub DIY No. 112 Tahun 2014 tentang Pemanfaatan Tanah Desa. 2) Penguatan kapasitas tata kelola pemerintahan desa maupun dusun untuk mampu memanfaatkan aplikasi SIAP & SIMPUL Desa lengkap dengan proses pendampingannya.

Pj. Kades Salam, menyambut baik pertemanan ini dan berterima kasih karena ada yang mau menemani desa, karena menurut Ibu Nur, “menemani desa” itulah yang saat ini dibutuhkan untuk membuat Desa Salam semakin berkembang terutama dalam pengelolaan adminduk dan perbaikan tata kelola pemerintahan terkait dengan penguatan kapasitas pemerintahan desanya. Selain itu, Ibu Pj. Kades Salam juga memaparkan kesulitan mengakses Prodeskel, karena akses internet sangat sulit didapat. Maka ketika ada rencana pendampingan untuk memanfaatkan aplikasi SIAP dan SIMPUL secara offline, dengan antusias hal tersebut diterima dan dinanti kehadirannya. Sebagai akhir pertemuan, Tim Jogja akan diundang dan dilibatkan dalam pertemuan-pertemuan di desa selanjutnya sehingga bisa dikenal oleh perangkat pemerintah desa, dusun, dan lembaga yang ada di desa.

Pendampingan Rutin Desa Ponjong

Desa Ponjong merupakan salah satu teman lama yang pernah kami dampingi. Desa ini sangat kaya dengan potensi lokal, baik potensi sumberdaya alam, maupun sumberdaya manusianya. Pemerintah Desa dijabat oleh Sekretaris Desa sebagai Pj. Kades. Meski demikian, Desa Ponjong mampu menjadi rujukan bagi desa lain di Kabupaten Gunung Kidul untuk belajar tentang Sikudes (Sistem Keuangan Desa), sebuah aplikasi sistem keuangan yang diinisiasi oleh PNPM dan dikembangkan diseluruh kabupaten termasuk Kabupaten Gunung Kidul. Namun karena beberapa alasan, maka belum semua desa menggunakan Sikudes dalam setiap pelaporan keuangan. Alasan utamanya adalah minimnya sumberdaya para perangkat desa dan kurangnya fasilitasi dari Pemerintah Kabupaten kepada desa.

Kamis, 22 Januari 2015, Tim Jogja (Ani dan Nurul), seusai berkunjung dari Desa Salam melanjutkan perjalanan ke Desa Ponjong. Dalam pertemuan dengan Sekretaris Desa yang juga Pj. Kades Ponjong yaitu Bapak Eka Bambang Wacana, kami banyak berdiskusi dan cross check tentang dokumen RPJMDesa, RKPDesa, APBDesa, RKA maupun Perdes. Dalam diskusi tersebut, Pak Eka meminta masukan mengenai komposisi RKPDesa, APBDesa dan perbaikan Perdes tentang pungutan yang perlu direvisi karena terakhir diterbitkan tahun 2010.

Diskusi dilanjutkan dengan cross check aplikasi Sikudes yang ternyata menunya belum disesuaikan dengan format PP yang baru. Maka kami menawarkan aplikasi SIAP dan SIMPUL Desa. Karena Pak Eka termasuk perangkat desa yang biasa menggunakan sistem aplikasi keuangan, beliau ingin melihat penggunaan sistem SIAP dan SIMPUL, terutama SIAP yang dianggap penting sebagai sarana penataan keuangan desa secara lebih tepat. Aplikasi SIAP kemudian di-instal dan dibuka, tetapi harus menunggu kode aktivasi dari Farhan. Selanjutnya uji coba bersama kami lakukan jarak jauh karena kode aktivasi baru dapat dikirimkan keesokan hari.

Beberapa catatan dari uji coba SIAP antara lain:

  1. Belum ada kode rekening otomatis (misal: Kode 1 adalah kode untuk Pendapatan), kemudian Kode 1.1 adalah kode untuk PADesa), 1.2 untuk bagi hasil pajak), Kode 2 belanja, dll). Menu-menu tersebut akan lebih baik apabila muncul di menu transaksi.
  2. Bagaimana cara update transaksi RKA/program kegiatan?
  3. Rekap total menu belanja langsung belum secara otomatis, pengguna masih harus entry data satu per satu / manual per kode rekening, sehingga prosesnya lama.
  4. Belum ada menu kas.
  5. Ada baiknya di setiap transaksi di tiap level (baik pendapatan maupun belanja) diberi fasilitas print preview.

Catatan-catatan tersebut diharapkan menjadi hal yang berguna untuk perbaikan aplikasi yang ada. Hal ini tentu karena Penabulu akan mendampingi banyak desa di wilayah lain, yang pastinya akan menggunakan sistem ini sebagai model lain dari aplikasi yang sudah ada.

Di akhir diskusi yang berjalan sampai dengan pkl. 16.30 wib, kami sempat mendiskusikan siklus pendampingan yang terintegrasi dengan program desa. Dalam RKPDesa dan APBDesa Ponjong, pendampingan Tim Jogja telah dimasukkan menjadi program desa dalam bentuk penguatan kapasitas. Desa Ponjong akan membiayai 3 (tiga) kali kegiatan dalam tahun anggaran 2015. Proses penguatan kapasitas terdekat rencananya akan dilaksanakan pada bulan Februari 2015 (sekitar minggu ke-2 atau ke-3).

Penguatan kapasitas akan fokus pada penguatan sisi tata kelola pemerintahan dan Good Governance serta memperkenalkan sistem aplikasi SIAP dan SIMPUL Desa. Setelah Desa Ponjong berbenah secara internal, aplikasi dan model pendampingan dari Tim Jogja ini akan diperkenalkan Pj. Kades kepada 6 desa lain di wilayah Kecamatan Ponjong dan harapannya dapat dipromosikan ke tingkat Kabupaten agar semakin banyak desa di Kabupaten Gunung Kidul yang tertib dalam pendokumentasian dan optimalisasi sistem keuangan desa dan adminduk, sebagai antisipasi berbagai proses keuangan yang diterapkan dalam PP 43 maupun PP 60 tahun 2014.

Sebelum pulang, kami diajak untuk melihat lokasi BUMDesa Pusat Kuliner di Desa Ponjong yang sudah diresmikan dan mulai dioperasionalkan dalam sebulan terakhir. Desa Ponjong mempunyai BUMDesa yang mengelola 2 kegiatan yakni: Water Byur sebagai sarana rekreasi bagi anak-anak dan tidak jauh dari Water Byur telah dibangun pusat kuliner desa, yang bertujuan mengakomodir pemasaran berbagai usaha ekonomi lokal masyarakat Desa Ponjong.

2017-04-05T16:16:11+00:00