Swatata 2017-04-05T16:16:11+00:00

Fenomena pengaturan diri atau swatata (self-organization) teramati pada hampir semua aspek kehidupan sehari-hari, mulai sistem fisik, kimia, biologi, psikologi sampai sistem budaya.

Burung angsa yang terbang dalam kelompok yang teratur merupakan salah satu contoh sistem pengaturan diri. Mereka saling menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan kelompok-kelompok lainnya dan secara tidak sadar mengatur diri mereka ke dalam formasi yang terpola. Fenomena ini terlihat juga pada masyarakat manusia. Melalui tindakan sederhana, membeli dan menjual, masyarakat mengatur dirinya ke dalam suatu sistem ekonomi. Hal ini terjadi secara otomatis, tanpa seorang pun yang menginisiasi proses itu atau secara sadar merencanakannya.

Buku Kemandirian Lokal, Konsepsi Pembangunan, Organisasi, dan Pendidikan dari Perspektif Sains Baru yang ditulis oleh A. Mappadjantji Amien (2005), menyebutkan bahwa swatata didefinisikan dalam banyak cara, di antaranya:

  • Evolusi dari suatu sistem ke dalam bentuk yang terorganisisasi tanpa adanya kendala-kendala eksternal.
  • Gerakan dari suatu ruang-keadaan yang lebih besar ke ruang-keadaan yang lebih kecil di bawah kendali sistem itu sendiri. Ruang-keadaan yang lebih kecil itu sering dinamakan atraktor.
  • Timbulnya keterhubungan atau korelasi (pola) dalam waktu atau ruang antar beberapa variabel bebas yang terjadi berdasarkan hukum-hukum lokal (local-rules).

Sistem swatata sendiri akan memiliki tiga ciri utama, yaitu:

  1. Bersifat terbuka dan merupakan bagian dari lingkungannya. Sistem memiliki kemampuan untuk membentuk struktur baru dan mempertahankannya dalam kondisi-kondisi jauh dari setimbang. Fenomena ini meruntuhkan pandangan tradisional bahwa sistem-sistem itu harus diuji seolah-olah mereka terasingkan dari lingkungannya.
  2. Aliran energi dalam sistem membuat mereka secara spontan mengatur dirinya sendiri, menciptakan, dan mempertahankan sebuah struktur dalam kondisi yang jauh dari setimbang.
  3. Sistem-sistem semacam ini juga menciptakan struktur-struktur baru dan perilaku-perilaku baru dalam proses pengaturan diri. Oleh karena itu, sistem ini sering pula dinamakan sebagai “sistem kreatif”.
  4. Sistem swatata bersifat kompleks dipandang dari dua sisi. Pertama, bagian-bagian mereka sangat banyak sehingga tidak ada cara di mana suatu hubungan kausal di antara mereka dapat dimapankan. Kedua, komponen-komponen mereka saling terkait oleh suatu jaringan putaran umpan balik.

Berdasarkan ciri-ciri khas tersebut di atas, Capra (1996) merumuskan definisi sistem swatata sebagai kemunculan spontan struktur-struktur baru dan bentuk-bentuk perilaku baru dalam sistem-sistem terbuka yang jauh dari kesetimbangan, yang dicirikan oleh putaran-putaran umpan balik internal dan nonlinier. Perubahan secara acak mendorong terjadinya swatata, memungkinkan eksplorasi terhadap ruang-keadaan yang baru. Pada sistem swatata, kita berhadapan dengan sistem kompleks yang berperilaku sederhana.

Ketika negara tidak (belum) hadir di tengah masyarakatnya, maka sistem swatata-lah yang sesungguhnya mewujud selama ini.

Sistem kemasyarakat tanpa kehadiran sejati pemerintah sendiri, yang kemudian menumbuhkan swatata warga di tingkat lokal, harus dipahami sebagai sesuatu relasi yang kompleks. Keseluruhan sistem harus dipandang lebih dari penjumlahan bagian-bagian dari sistem itu sendiri. Pergeseran fokus berbasis sudut pandang yang komprehensif, dibandingkan fokus ke masing-masing bagian dari sistem membutuhkan juga pembaruan titik tekan dari fokus pada ‘obyek’ menjadi fokus kepada ‘relasi’.

Pemahaman atas pola relasi tidaklah sederhana. Relasi tidak dapat diukur ataupun dinilai. Relasi haruslah dipetakan. Maka, terbentuklah pemahaman baru dari keharusan untuk ‘mengukur’ menjadi kebutuhan untuk melakukan ‘pemetaan’.

Ketika pemetaan mulai dilakukan, jelas akan mulai ditemukan kejadian atau hubungan yang terjadi berulang, Perulangan tersebutlah yang dinamakan pola relasi. Lagi-lagi sudut pandang sistemik ini akan mengubah prespektif dari ‘isi’ menjadi fokus pada ‘pola’. Pemetaan peta dan pemahaman atas relasi bukan didasari oleh pendekatan ‘kuantitatif’, namun jelas membutuhkan analisa ‘kualitatif’.

Dan pada akhirnya, memahami sistem swatata lokal warga bukan hanya dapat dilakukan dengan memperhitungkan relasi antar masing-masing fungsi dan posisi dalam sebuah sistem terbatas, namun juga harus benar-benar mempertimbangkan hubungan sistem tersebut dengan sistem lain yang setara dan sistem yang yang lebih besar secara integral.